MINI
RISET
Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Genetika
Studi Pola Segregasi
Karakter Morfologi Persilangan Dua Genotip Parental
Tubuh Tinggi Rambut
Lurus Hidung Mancung X Tubuh Pendek Rambut Lurus Hidung Pesek dalam Menentukan
Genotip Parental Dan Rasio F1

Disusun Oleh :
Rini Rahma Dina
(A1C418005)
Dosen Pengampu :
1. Dr.
Drs. Jodion Siburian, M.Si.
2. Dr.
Dra. Evita Anggereini, M.Si.
3. Dr.
Afreni Hamidah, S.Pt., M.Si.
PROGRAM STUDI
PENDIDDIKAN BIOLOGI
JURUSAN MATEMATIKA DAN
ILMU PENGETAHUAN
ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
MINI
RISET
Studi Pola Segregasi
Karakter Morfologi Persilangan Dua Genotip Parental Tubuh Tinggi, Rambut Lurus,
Hidung Mancung X Tubuh Pendek, Rambut Lurus, Hidung Pesek Dalam Menentukan Genotip
Parental Dan Rasio F1
A Study Of A Pattern Of
Segregated Character Morphology, With Two Distinct Genders Tall Body, Hair Straight,
Nose Curved X Short Body, Hair Straight Nose Snub, To Determine The Corresponding
Genome And The F1 Ratio
Rini Rahma Dina
NIM : A1C418005 | Reguler
A 2018
Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan
Universitas Jambi
E-mail : rinirahmadina026@yahoo.com
ABSTRAK
Gen merupakan unit hereditas yang dapat
di transmisikan atau diwariskan ke generasi selanjutnya. Gamet tersebut
terletak pada molekul yang panjang yaitu asam deoksiribonukleat, terdapat pada
semua sel. setiap organisme memiliki jumlah kromosom pada sel-sel susunan tubuh
yang identik. Terdapat dua jenis susunan kromosom. Pada susunan kromosom yang
mempunyai satu set saja kromosom disebut diplodid (n). Persilangan
antara induk jantan dan betina, terjadi pembentukan gamet atau proses
gametagenesis. Berdasarkan hasil studi pengamatan yang dilakukan terhadap
morfologi parental trihibrid dengan tinggi badan, bentuk rambut dan bentuk
hidung menghasilkan keturunan filial pertama sebanyak empat orang anak.
Persilangan yang dilakukan tersebut menggunakan diagram anak garpu atau fork
line. Pada penelitian ini dilakulan test cross untuk mengetahui
genotip parental. Maka didapatkan genotip parental didapatkan genotip parental
♂ TTRrHh X ♀ ttRrHh. Persilangan genotip parental tubuh
tinggi rambut lurus hidung mancung dikawinkan dengan tubuh pendek rambut lurus
hidung pesek menghasilkan keturunan empat orang anak dengan rasio tubuh tinggi
hidung mancung 75 % sedangkan anak yang bertubuh tinggi rambut ikal hidung
pesek dengan 25 %.
Kata kunci :
Gen, gamet, genotip, kromosom, trihibrid, filial, fork line, test
cros.
ABSTRACT
Genes are units of heredity that can be
transmitted or passed on to succeeding generations. The gamet lies in the long
molecule of deoxyribonucleic acid, found in all cells. Each organism has a
number of chromosomes in identical skeletal cells. There are two types of
chromosomes. In the chromosomes that have just one set of chromosomes called a
diplodid (n). The hybrid between male and female is formed of a gamet or
gametageneesis. Based on the observation study of morphological morphology at
its height, the shape of the hair and the shape of the nose produced the first
four children. The fork or fork line diagram is used. On this research the
cross test was to know the genome belongs. Then it's got a bloody genome got a
bloody genome ♂ TTRrHh X ♀ ttRrHh. A genotoid belonging to a tall,
straight nose of a mancung is intertwined with a short body of straight hair
the snub nose produces offspring of four children with a stretched nose ratio
of 75 % while a tall child has a curved nose with 25 %.
Keywords: genes,
gamet, genotip, chromosome, trihibrid, filial, fork line, cros test.
PENDAHULUAN
Gen merupakan unit unit
hereditas yang dapat di transmisikan atau diwariskan ke generasi selanjutnya. Gamet
tersebut terletak pada molekul yang panjang yaitu asam deoksiribonukleat,
terdapat pada semua sel. Manusia termasuk ke dalam organisme yang lebih
kompleks, pada manusia setiap sel mengandung kromosom dalam satu set itu dari
induk betina dan untuk satu set lainnya dari induk jantan. Penggabungan dari jumlah
kromosom tersebut berjumlah diploid (2n). Jumlah kromosom pada setiap selesai
mati manusia mengandung 46 kromosom ( Elrod & William. 2002:1)
Menurut Artadana dan
Wina (2018:19) menjelaskan jika setiap organisme memiliki jumlah kromosom pada
sel-sel susunan tubuh yang identik. Terdapat dua jenis susunan kromosom. Pada
susunan kromosom yang mempunyai satu set saja kromosom disebut diplodid (n).
Sedangkan jika susunan kromosom diploid mempunyai pasangan kromosom yang
homolog. Maka dua kromosom dapat dikatan homolog jika terdapat gen yang sama pada lokusnya. Ketika alelnya berbeda pada
setiap lokus, maka pada satu spesies organisme memiliki perbedaam fenotip.
Persilangan
antara induk jantan dan betina, terjadi pembentukan gamet atau proses gametagenesis.
Terjadi penyatuan antara gamet jantan dan gamet betina dalam proses fertilisasi
dengan menghasilkan zigot. Pada hukum Mendel dikenal dengan hukum berpasangan
bebas, hal ini menyatakan bahwa segera terjadi pemisahan suatu pasang yang
terjadi secara independen atau lepas dari pasangan gen. Untuk persilangan 2
genetik parental dengan tubuh tinggi rambut lurus hidung mancung disilangkan
dengan tubuh pendek rambut lurus hidung pesek. Misalnya terdapat alel dengan
bentuk tinggi disilangkan dengan pendek, dan pada pasangan kromosom lainnya
terdapat alel-alel bagi rambut lurus dan rambut keriting. Begitu pula dengan
pasangan kromosom terdapat alel-alel bagi hidup mancung dan hidung pesek.
Segregasi
alel-alel dari bentuk tinggi badan dapat terjadi secara independen dari segregasi
alel-alel bagi bentuk rambut dan bentuk hidung. Karena masing-masing dari
pasangan kromosom yang homolog berlaku sebagai unit yang independen selama
meiosis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui genotip parental, persentase
kemungkinan fenotip keturunan F1 yang bertubuh tinggi, rambut lurus, hidung
mancung dengan tubuh tinggi, rambut ikal, hidung pesek. Dan pola segregasi
populasi F1 apakah sejalan dengan nisbah Mendel.
METODE
PENELITIAN
Waktu dan Tempat
Penelitian
dilaksanakan pada 10-17 Oktober 2020 di jalan Husin Hamzah, Kecamatan Muara
Tembesi, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.
Alat dan Bahan
Penelitian ini menggunakan
acuan jurnal yang relevan dan responden penelitian adalah salah satu keluarga
di jalan Husin Hamzah Kabupaten Batanghari. Variabel penelitian adalah jenis
kelamin, tinggi badan, bentuk rambut dan bentuk hidung.
Analisis Data
Penelitian ini
menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menganalisis hasil filial
pertama dengan kemungkinan genotip
parental, menggunakan metode uji silang atau test cross, uji chi square
untuk menentukan pola persilangan genotip parental.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil studi
pengamatan yang dilakukan terhadap morfologi parental dengan tinggi badan,
bentuk rambut dan bentuk hidung menghasilkan keturunan F1 sebanyak empat orang
anak dengan genotip sebagai berikut.







Berdasarkan hasil
observasi, keturunan pertama dari genotip parental menghasilkan Dua orang anak
laki-laki dan dua orang anak perempuan. Untuk organisme khusus manusia, jenis
kelaminnya terdapat sepasang kromosom yang berbeda secara morfologis.
Pasangan kromosom ini ditandai dengan X dan Y. Ketika genotip parental
disilangkan, kromosom Y akan menjadi penentu dalam keturunan yang berkelamin laki-laki.
Sedangkan, untuk kromosom X secara
morfologis, identik dengan perempuan (
Elrod & William. 2002:5).
Untuk mengetahui menguji
apakah genotip parentalnya berdasarkan rasio fenotionya diketahui
|
Alel |
Tinggi
badan |
Bentuk
rambut |
Bentuk
hidung |
|
Dominan |
T (Tinggi) |
R (Lurus) |
H (Mancung) |
|
Resesif |
t (Pendek) |
r (ikal) |
h (pesek) |
·
2 Anak laki-laki bertubuh tinggi, rambut
lurus dan hidung mancung
·
1 Anak perempuan bertubuh tinggi, rambut
lurus dan hidung mancung
·
1 Anak perempuan bertubuh tinggi, rambut
ikal dan hidung pesek
Maka
genotip parental dari tinggi rambut lurus dan hidung mancung X pendek rambut lurus dan hidung pesek.
Menurut Mustami (2013:16) menjelaskan bahwa alel merupakan sifat dari gen berupa
ekspresi alternatif. Setiap individu, memiliki sepasang alel yang memiliki sifat
yang khas tertentu berasal dari parentalnya. Pasangan alel ini disebut sebagai
genotip. Berdasarkan teori tersebut, untuk mengamati pola segregasi dua genotip
yang memiliki pasangan alel yang berbeda , maka persilangan dibawah ini
bergenotip heterozigot.
P : T_R_H_ X t_R_h_
F1:
3 Tinggi lurus mancung
1 Tinggi ikal pesek
v Untuk
menentukan genotip jantan (TRH)
Menyilangkan
organisme dengan genotip yang belum diketahui dengan homozigot resesif
Diketahui
T dominan terhadap t
R
dominan terhadap r
H
dominan terhadap h
Ø T
(Tinggi) dengan dua kemungkinan : TT, Tt
t
(pendek) homozigot resesif : tt

Maka TT or
Tt X
tt
Ø R
(rambut lurus) dengan dua kemungkinan : RR, Rr
r (rambut ikal) homozigot resesif : rr
Maka RR or
Rr X rr


Ø H
(hidung mancung) dengan dua kemungkinan : HH, Hh
h
(hidung pesek) homozigot resesif : hh

Maka
HH or Hh
X hh

v Untuk
menentukan genotip betina (tRh)
Menyilangkan
organisme dengan genotip yang belum diketahui dengan homozigot resesif
Diketahui
T dominan terhadap t
R
dominan terhadap r
H
dominan terhadap h
Ø t
(pendek) dengan satu kemungkinan : tt
t
(pendek) homozigot resesif : tt

Maka tt
X tt
Ø R
(rambut lurus) dengan dua kemungkinan : RR, Rr
r (rambut keriting) homozigot resesif :
rr
Maka RR or
Rr X rr


Ø h
(hidung pesek) dengan satu kemungkinan : hh
h
(hidung pesek) homozigot resesif : hh
Maka
hh
X hh

Uji Persilangan Test
Cross
Menurut Daryono dan Muhammad
(2009: 5) menjelaskan bahwa dalam persilangan dua genotip parental dapat
menghasilkan keturunan filial pertama. Untuk mengetahui genotip parental dapat
digunakan uji silang atau test cross. Uji silang, sangat membantu
mengetahui sifat suatu individu genotip parentalnya bersifat homozigotik atau
heterozigotik. Maka hasil uji silang didapatkan genotip parental ♂ TTRrHh X ♀
ttRrHh. Pada penelitian ini didapatkan populasi test cross menunjukkan
segregasi dengan perbandingan filial pertama 3:3:1:1. Jika dibuktikan ratio
fenotipnya 2/4 Tinggi lurus mancung, 1/4 Tinggi lurus mancung, 1/4 Pendek lurus
pesek.

P
: ♂ TTRrHh X ♀ ttRrhh
G :
F1
: TT
X tt Rr X Rr Hh X Hh
![]()
![]()
![]()

F1 :




![]()
Ratio
fenotip :
![]()
![]()
![]()

Persilangan yang
dilakukan tersebut menggunakan diagram anak garpu atau fork line. Dengan
memanfaatkan metode diagram anak garpu dalam menentukan nisbah fenotip F1 sangat mempercepat persilangan dengan meminimalisir
terjadinya kekeliruan dari pada penggunaan diagram Punnet. Sesuai hasil
study persilangan dari genotip parental yang melibatkan lebih dari dua pasang,
yaitu trihibrid akan sangat memudahkan untuk mengetahui nisbah dari fenotip dan
genotip jika menggunakan diagram anak garpu (Ismail. 2017: 14). Setelah
disilangkan genotip parental tersebut didapatkan
Tes Chi Square Test
|
Fenotip |
Observed |
Expected |
O-E |
X² |
|
Tinggi lurus Mancung |
6 |
24 |
-18 |
X² = 36 |
|
Tinggi lurus pesek |
6 |
24 |
-18 |
|
|
Tinggi ikal mancung |
2 |
8 |
-6 |
|
|
Tinggi ikal pesek |
2 |
8 |
-6 |
|
|
db = 4-1 = 3 , a =
0,05. Maka X² Hitung 36 > X² Tabel 7,81 |
||||
Berdasarkan hasil
persilangan tes cross oleh genotip parental menghasilkan filal pertama dengan
perbandingan 3 : 3 : 1 : 1. Sedangkan pengujian pola persilangan genotip
parental menggunakan uji chi square tidak mengikuti pola dengan nisbah pewarisan
Mendel dengan perbandingan 3 : 1.
Rasio
fenotip :
Tinggi lurus
mancung 6 : 2 = 3
Tinggi lurus
pesek 6 : 2 = 3
Tinggi ikal
mancung 2 : 2 = 1
Tinggi ikal
pesek 2 : 2 =1
Maka, sesuai dengan
fenotip yang telah diketahui dan persentase dari pesilangan sebagai berikut :
Tinggi
lurus mancung 3 ¾ × 100% = 75 %
Tinggi ikal pesek 1
¼ ×
100% = 25 %
Jadi, dalam persilangan
genotip parental tubuh tinggi rambut lurus hidung mancung dikawinkan dengan
tubuh pendek rambut lurus hidung pesek menghasilkan keturunan empat orang anak
dengan rasio tubuh tinggi hidung mancung 75 % sedangkan anak yang bertubuh
tinggi rambut ikal hidung pesek dengan 25 %.
![]()
![]()
![]()
![]()
Peta
Silsilah

![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
![]()
Keterangan :
= Laki-laki

= Perempuan
= Tubuh tinggi rambut lurus hidung
mancung
= Tubuh
tinggi rambut lurus hidung pesek
![]()
= Tubuh tinggi rambut ikal hidung
mancung
= = Tubuh tinggi
rambut ikal hidung pesek
= Tubuh pendek rambut lurus hidung
pesek
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dari hasil
persilangan genotip parental trihibrid, dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Gen
merupakan unit hereditas yang dapat di transmisikan atau diwariskan ke generasi
selanjutnya. Gamet tersebut terletak pada molekul yang panjang yaitu asam
deoksiribonukleat, terdapat pada semua sel. setiap organisme memiliki jumlah
kromosom pada sel-sel susunan tubuh yang identik.
2. Uji
silang, sangat membantu mengetahui sifat suatu individu genotip parentalnya
bersifat homozigotik atau heterozigotik. Maka hasil uji silang didapatkan
genotip parental ♂ TTRrHh X ♀ ttRrHh.
3. Persilangan
yang dilakukan tersebut menggunakan diagram anak garpu atau fork line. Dengan
memanfaatkan metode diagram anak garpu dalam menentukan nisbah fenotip F1 sangat mempercepat persilangan dengan meminimalisir
terjadinya kekeliruan daripada penggunaan diagram Punnet.
4. Hasil
persilangan tes cross oleh genotip parental menghasilkan filal pertama dengan
perbandingan 3 : 3 : 1 : 1. Sedangkan pengujian pola persilangan genotip
parental menggunakan uji chi square tidak
DAFTAR
PUSTAKA
Artadana,
I. B. M., dan Wina, D. S. 2018. Dasar-Dasar Genetika Mendel Dan
Pengembangannya. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Daryono,
B. S., dan Muhammad, T. Q. 2009. Pewarisan Sifat Ketahanan Tanaman Melon (Curcumis
melo L.) Terhadap Powdery Mildew (Podosphaera xanthii (Castag.)
Braun et Shishkoff). Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. Vol.
15, No. 1, Hal. 5.
Elrod,
S., dan Stansfield. W. 2002. GENETIKA Edisi Keempat. Jakarta: Erlangga.
Mustami,
K. 2013. Genetika. Makasar: Universitas Islam Negeri Allauddin Press
Syahris,
A. 2017. Genetika. Makalah. Fakultas Kedokteran Universitas Undayana. Denpasar
LAMPIRAN
|
Bentuk Rambut |
Bentuk Hidung |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
|
|











